Program rutin yang dijalankan adalah penyelenggaraan Workshop Eco-Enzyme, sebuah pelatihan intensif bagi seluruh warga pesantren untuk memahami cara pembuatan cairan multiguna dari limbah dapur. Eco-enzyme adalah cairan hasil fermentasi sisa sampah organik (kulit buah dan sayuran), gula merah/molase, dan air dengan perbandingan tertentu. Selama tiga bulan masa fermentasi, mikroba bekerja mengubah limbah tersebut menjadi cairan asam yang kaya akan enzim pembersih alami. Santri diajarkan ketelitian dalam menimbang bahan dan kesabaran dalam menunggu proses alam bekerja.
Fokus utama dari pelatihan di Darussalamnuh adalah bagaimana cara kreatif untuk Ubah Limbah menjadi produk bernilai guna tinggi yang bisa digunakan sehari-hari. Cairan eco-enzyme yang sudah jadi kemudian diproses lebih lanjut melalui reaksi saponifikasi untuk menghasilkan produk pembersih tubuh. Inisiatif ini bermula dari keprihatinan akan penggunaan sabun kimia komersial di pesantren yang berpotensi merusak ekosistem air tanah karena kandungan deterjennya yang sulit terurai. Dengan eco-enzyme, pesantren kini memiliki alternatif pembersih yang jauh lebih ramah lingkungan.
Hasil akhir yang paling dibanggakan dari workshop ini adalah kemampuan santri untuk memproduksi Jadi Sabun alami yang berkualitas. Sabun ini tidak hanya ampuh membersihkan kotoran, tetapi juga memiliki aroma segar khas fermentasi buah dan lembut di kulit karena tidak menggunakan bahan kimia keras (SLS/Paraben). Produk sabun cair dan sabun batang eco-enzyme ini digunakan secara internal untuk kebutuhan mandi santri, mencuci pakaian, hingga membersihkan lantai asrama. Ini adalah langkah penghematan anggaran pesantren sekaligus upaya nyata dalam menjaga kesucian dan kebersihan lingkungan secara Islami.
Implementasi program ini di lingkup pesantren juga berfungsi sebagai sarana edukasi sains yang menyenangkan. Santri belajar tentang bioteknologi, peran bakteri baik dalam fermentasi, hingga pentingnya menjaga keseimbangan pH dalam produk pembersih. Mereka diajarkan bahwa Allah tidak menciptakan sesuatu secara sia-sia, bahkan kulit buah yang dianggap kotor pun memiliki manfaat besar jika disentuh dengan ilmu pengetahuan. Pemahaman ini memperkuat rasa syukur santri terhadap setiap detail nikmat yang disediakan oleh alam semesta.