Dunia jurnalistik di pesantren kini telah berkembang menjadi lebih dari sekadar buletin dinding sederhana. Di Pondok Pesantren Darussalamnuh, sebuah langkah besar diambil dengan membentuk tim khusus yang fokus pada teknik wawancara mendalam. Melalui program wawancara eksklusif, para santri belajar bagaimana menggali informasi dari tokoh-tokoh inspiratif, mulai dari pimpinan pondok hingga praktisi profesional dari luar lingkungan pesantren. Kegiatan ini bukan hanya sekadar tugas liputan, melainkan latihan ketajaman berpikir dan seni berkomunikasi yang sangat krusial bagi seorang calon pemimpin.
Kunci dari sebuah wawancara yang berhasil adalah riset yang matang. Tim jurnalis santri di Darussalamnuh diajarkan untuk tidak datang dengan tangan kosong. Sebelum bertemu narasumber, mereka wajib mengumpulkan data sebanyak mungkin tentang topik yang akan dibahas. Mereka mempelajari profil tokoh, memahami latar belakang masalah, dan menyiapkan daftar pertanyaan yang kritis namun tetap menghormati narasumber. Proses riset ini melatih santri untuk teliti, tekun, dan memiliki wawasan yang luas, karena mereka harus mampu menyesuaikan bahasa saat berbicara dengan berbagai kalangan.
Seni dalam membangun kedekatan atau rapport juga menjadi fokus utama dalam pelatihan ini. Wawancara bukan sekadar proses tanya jawab formal, tetapi sebuah interaksi antarmanusia yang membutuhkan empati. Santri diajarkan untuk menjadi pendengar yang aktif, memperhatikan nada bicara narasumber, dan tahu kapan harus memberikan pertanyaan lanjutan (follow-up) yang menggali jawaban lebih dalam. Dengan pembawaan yang santun dan sopan, santri sering kali berhasil mendapatkan informasi yang sangat berharga dan cerita di balik layar yang jarang diketahui orang lain.
Selain aspek teknis, etika jurnalistik tetap dijunjung tinggi. Tim jurnalis Darussalamnuh berkomitmen pada prinsip akurasi dan integritas. Mereka belajar untuk memilah mana informasi yang layak untuk dipublikasikan dan mana yang harus disimpan demi menjaga martabat narasumber. Proses penyuntingan (editing) dilakukan dengan teliti di bawah pengawasan mentor, memastikan bahwa setiap kata yang dimuat dalam artikel atau video hasil liputan tidak menimbulkan kesalahpahaman atau fitnah. Inilah implementasi nyata dari akhlakul karimah dalam dunia komunikasi.