Pembelajaran kitab kuning telah lama menjadi tulang punggung pendidikan di pesantren-pesantren Indonesia, menjadikannya warisan intelektual Islam yang tak ternilai dan identitas yang melekat erat pada lembaga pendidikan tradisional ini. Kitab kuning, yang merujuk pada karya-karya klasik dalam berbagai disiplin ilmu Islam seperti fikih, akidah, akhlak, tasawuf, tafsir, dan hadis, bukan sekadar buku, melainkan jembatan yang menghubungkan santri dengan tradisi keilmuan yang telah berabad-abad lamanya.
Pentingnya pembelajaran kitab kuning terletak pada kemampuannya membentuk ulama dan cendekiawan Muslim yang memiliki pemahaman agama yang mendalam dan komprehensif. Melalui proses ini, santri diajarkan untuk memahami teks asli berbahasa Arab, menganalisis argumen ulama terdahulu, dan mengembangkan penalaran logis dalam menghadapi berbagai persoalan keagamaan dan sosial. Sebagai contoh, pada Rapat Koordinasi Nasional Forum Komunikasi Pondok Pesantren se-Indonesia yang diselenggarakan pada hari Kamis, 18 April 2024, di Balai Sidang Jakarta, Menteri Agama Republik Indonesia, Bapak H. Yaqut Cholil Qoumas, secara khusus menekankan pentingnya mempertahankan dan mengembangkan kurikulum kitab kuning sebagai fondasi pendidikan pesantren di era modern. Beliau menyatakan, “Kitab kuning bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga panduan relevan untuk masa depan umat.”
Metode pengajaran kitab kuning pun sangat khas. Di antara yang paling populer adalah metode bandongan (kiai membaca dan menjelaskan, santri menyimak dan membuat catatan makna pegon) dan sorogan (santri membaca di hadapan kiai untuk diperiksa bacaan dan pemahamannya). Kedua metode ini memastikan interaksi langsung antara guru dan murid, memungkinkan transfer ilmu secara mendalam dan personal. Selain itu, banyak pesantren juga mengintegrasikan diskusi (halaqah) untuk memperdalam pemahaman santri tentang isi kitab. Pada perayaan Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2023, di Alun-Alun Simpang Lima Semarang, ribuan santri menunjukkan antusiasme mereka dalam membaca dan mengkaji berbagai kitab kuning, menandakan betapa melekatnya tradisi ini dalam kehidupan mereka.
Lebih jauh, pembelajaran kitab kuning juga menanamkan nilai-nilai moral dan etika yang kuat. Melalui kitab-kitab tasawuf dan akhlak, santri diajarkan tentang pentingnya kejujuran, kesederhanaan, ketaatan, dan pengabdian kepada masyarakat. Hal ini tidak hanya membentuk intelektual yang cerdas, tetapi juga pribadi yang berkarakter mulia. Penanaman nilai-nilai ini terlihat dalam kegiatan pengabdian masyarakat yang rutin dilakukan oleh santri, seperti yang terjadi pada bulan Ramadhan, 15 Maret 2025, ketika puluhan santri dari Pondok Pesantren Al-Hikmah melakukan kegiatan sosial di desa-desa terpencil sekitar Kabupaten Bogor, membantu warga dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari, berbekal ilmu dan adab yang mereka peroleh dari pembelajaran kitab kuning. Inilah yang membuat pesantren dengan tradisi kitab kuningnya menjadi identitas kuat dalam lanskap pendidikan Islam di Indonesia.