Salah satu misteri paling legendaris yang selalu mewarnai dinamika kehidupan di pondok pesantren adalah fenomena yang sering disebut sebagai Tragedi Sandal Masjid. Fenomena ini bukan soal pencurian dalam arti kriminal yang serius, melainkan sebuah siklus “perpindahan hak milik tanpa izin” yang mencapai puncaknya saat bulan suci. Pertanyaan besar yang selalu muncul di benak setiap santri adalah, Kenapa Selalu Hilang terutama di waktu-waktu krusial seperti shalat tarawih? Kehilangan sandal bukan hanya soal kerugian materi, tetapi juga soal ujian kesabaran dan perjuangan fisik untuk pulang ke asrama tanpa alas kaki di atas aspal yang masih menyisakan hawa panas. Saat Ramadan, fenomena ini seolah menjadi “bumbu” yang melatih mentalitas para pejuang ilmu.

Penyebab utama Tragedi Sandal Masjid sebenarnya terletak pada kerumunan massa yang luar biasa besar dalam satu waktu. Saat azan berkumandang, ratusan bahkan ribuan santri berlarian menuju masjid dengan tergesa-gesa, meletakkan alas kaki mereka secara sembarangan. Faktor Kenapa Selalu Hilang sering kali disebabkan oleh kemiripan bentuk dan warna sandal jepit yang dipakai santri. Dalam kondisi terburu-buru setelah selesai tarawih, banyak santri yang tanpa sengaja memakai sandal milik orang lain yang terlihat serupa. Hal ini memicu reaksi berantai; santri yang sandalnya tertukar akhirnya terpaksa memakai sandal lain yang tersisa, menciptakan sebuah lingkaran “tukar-menukar paksa” yang tak berujung sepanjang bulan Saat Ramadan.

Selain ketidaksengajaan, faktor psikologis “darurat” juga berperan dalam Tragedi Sandal Masjid. Ada semacam hukum tidak tertulis di kalangan santri bahwa jika sandal kita diambil orang, maka kita “berhak” meminjam sandal yang tersisa di teras masjid untuk sementara. Pola pikir inilah yang menjawab Kenapa Selalu Hilang secara masif. Budaya meminjam tanpa izin (ghosob) yang dilarang keras di pesantren justru sering kali terjadi secara sporadis di depan masjid. Meskipun para pengasuh dan kiai sering memberikan peringatan keras tentang dosa ghosob, godaan untuk tidak menginjak lantai kotor atau duri saat pulang ke asrama sering kali membuat santri nekat melakukan aksi “tukar sandal” tersebut Saat Ramadan.

Dampak dari Tragedi Sandal Masjid ini melahirkan berbagai inovasi kreatif dari para santri untuk melindungi alas kaki mereka. Ada yang menuliskan nama dengan ukuran besar menggunakan spidol permanen, ada yang mengikat kedua sandal dengan gembok kecil, hingga yang paling ekstrem adalah memisahkan pasangan sandal (meletakkan satu di sisi kanan masjid dan satu lagi di sisi kiri). Usaha keras untuk memastikan sandal tidak menjadi bagian dari daftar Kenapa Selalu Hilang adalah bentuk latihan kecerdasan dalam menjaga amanah barang pribadi. Namun, secanggih apa pun triknya, tetap saja ada momen di mana santri harus pasrah menjadi “korban” dari fenomena tahunan ini, terutama di malam-malam ganjil Saat Ramadan yang sangat ramai.

Kategori: Berita