Pesantren, sebagai lembaga pendidikan yang kental dengan nilai-nilai agama, secara aktif mendorong implementasi toleransi antar sesama dalam keseharian santri. Lebih dari sekadar teori, nilai-nilai ini diinternalisasi melalui interaksi langsung dan rutinitas komunal, membentuk santri yang berjiwa inklusif dan mampu hidup harmonis di tengah masyarakat yang beragam. Praktik toleransi antar sesama ini menjadi salah satu pilar utama pembentukan karakter santri.

Salah satu cara implementasi toleransi antar sesama yang paling jelas terlihat adalah dalam kehidupan asrama. Santri yang berasal dari berbagai daerah, suku, dan latar belakang sosial hidup bersama dalam satu kamar atau asrama. Mereka belajar untuk menghargai perbedaan kebiasaan, dialek, bahkan pola tidur. Misalnya, jika ada santri yang memiliki kebiasaan tidur lebih awal, teman-temannya akan berusaha untuk tidak membuat gaduh setelah jam tidur yang disepakati, biasanya pukul 22.00 malam. Sebaliknya, mereka yang terbiasa bangun dini hari juga akan berusaha tidak mengganggu tidur teman-teman lainnya. Ini adalah bentuk kompromi dan saling pengertian yang melatih santri untuk beradaptasi dengan keberagaman.

Selain itu, kegiatan belajar mengajar di kelas juga menjadi wadah penting dalam menumbuhkan toleransi antar sesama. Dalam diskusi pelajaran, santri diajarkan untuk menghargai setiap pendapat, meskipun berbeda dengan pandangan mereka sendiri. Guru seringkali memfasilitasi debat atau diskusi tentang isu-isu kontemporer, dan santri dilatih untuk menyampaikan argumen dengan santun serta mendengarkan pandangan lawan bicara dengan seksama. Misalnya, pada pelajaran Akhlak Tasawuf di hari Rabu, 17 September 2025, pukul 10.00 pagi, ustadz membahas pentingnya husnudzon (berprasangka baik) terhadap siapapun, termasuk mereka yang berbeda keyakinan. Pengajaran ini membentuk pola pikir santri agar tidak mudah menghakimi dan selalu mengedepankan dialog.

Momen makan bersama di ruang makan umum pesantren juga menjadi ajang praktik toleransi. Santri makan bersama dari nampan yang sama, terkadang harus berebut lauk atau saling berbagi makanan. Situasi ini mengajarkan mereka tentang pentingnya kebersamaan, kesederhanaan, dan berbagi. Jika ada santri yang tidak suka dengan lauk tertentu, ia akan belajar untuk tidak mengeluh dan menghormati hidangan yang tersedia. Bahkan dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti olahraga atau kesenian, toleransi antar sesama juga sangat ditekankan. Ketika tim sepak bola pesantren berlatih setiap sore Jumat pukul 16.00, mereka harus bekerja sama tanpa memandang kemampuan individu, dan saling mendukung demi kemenangan tim. Semua aspek kehidupan sehari-hari ini secara holistik menanamkan nilai-nilai toleransi, membentuk santri menjadi pribadi yang mampu hidup berdampingan secara damai di tengah masyarakat yang majemuk.