Kemandirian energi adalah impian banyak lembaga pendidikan, terutama yang berlokasi jauh dari pusat kota. Pondok Pesantren Darussalamnuh berhasil mewujudkan visi ini melalui instalasi Pembangkit Tenaga Air skala mikro, mencapai Kemandirian Listrik total untuk seluruh kompleks pesantren. Kisah sukses ini menjadi inspirasi tentang bagaimana institusi tradisional dapat memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya secara cerdas dan berkelanjutan untuk membiayai operasionalnya.
Pembangkit Tenaga Air yang dibangun oleh Ponpes Darussalamnuh, sering disebut Pico atau Micro Hydro, memanfaatkan aliran sungai kecil yang melintasi atau berdekatan dengan area pesantren. Dengan membangun bendungan mini dan instalasi turbin sederhana, energi kinetik air diubah menjadi energi listrik. Proyek ini tidak hanya memerlukan keterampilan teknis, tetapi juga pemahaman tentang hidrologi dan mekanika, yang secara langsung menjadi bahan ajar praktis bagi santri.
Pencapaian Kemandirian Listrik membawa dampak ekonomi dan operasional yang sangat besar. Sebelum adanya Pembangkit Tenaga Air, biaya listrik bulanan menjadi beban yang signifikan bagi anggaran pesantren. Kini, dana tersebut dapat dialokasikan untuk program beasiswa, perbaikan fasilitas, atau peningkatan gaji pengajar. Selain itu, Kemandirian Listrik menjamin pasokan energi yang stabil, memastikan kegiatan belajar-mengajar, terutama yang berbasis digital dan laboratorium, tidak terganggu oleh pemadaman listrik yang sering terjadi di daerah terpencil.
Proyek Pembangkit Tenaga Air ini juga memiliki dimensi lingkungan yang positif. Sebagai bentuk Energi Terbarukan, ia merupakan solusi energi yang bersih, minim emisi karbon, dan ramah lingkungan, sejalan dengan prinsip Islam tentang menjaga alam (hifzhul bi’ah). Santri tidak hanya belajar tentang teori fiqh, tetapi juga praktik fiqh bi’ah (fiqh lingkungan) yang nyata. Mereka terlibat dalam pemeliharaan saluran air dan turbin, menumbuhkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab terhadap aset strategis pesantren.
Kisah sukses Ponpes Darussalamnuh dalam membangun Pembangkit Tenaga Air untuk mencapai Kemandirian Listrik menunjukkan potensi besar yang dimiliki oleh pesantren untuk berinovasi dan berdikari. Ini adalah model pengelolaan aset wakaf produktif yang mengintegrasikan teknologi sederhana namun efektif, memberdayakan komunitas pesantren, dan mengurangi ketergantungan pada infrastruktur eksternal. Kemandirian Listrik yang dicapai ini menjamin keberlangsungan operasional pesantren, sekaligus mendidik santri untuk menjadi insinyur dan manajer energi terbarukan di masa depan.