Metode Sorogan dalam pendidikan pondok pesantren dapat diibaratkan sebagai personal coaching tertua yang telah teruji selama berabad-abad. Efektivitas Metode Sorogan dalam mengatasi kesulitan belajar santri menjadikannya pilar utama yang memastikan setiap individu mencapai pemahaman ilmu secara maksimal, tidak peduli dengan latar belakang akademiknya. Efektivitas Metode Sorogan ini terletak pada fokusnya yang intensif dan individual, memungkinkan guru (Kiai) atau Ustadz untuk memberikan perhatian penuh, mengoreksi, dan menyesuaikan bimbingan sesuai dengan kebutuhan spesifik masing-masing santri. Dengan demikian, Efektivitas Metode Sorogan adalah kunci pesantren dalam mencetak lulusan yang menguasai ilmu secara mendalam (mutqin).
Prinsip kerja Sorogan sangat sederhana namun kuat. Santri secara bergantian menyodorkan kitabnya kepada guru untuk dibaca dan diuji. Dalam sesi yang intim ini, guru segera mengidentifikasi titik lemah santri—apakah ia kesulitan dalam memahami tata bahasa Arab (Nahwu), salah dalam morfologi kata (Shorof), atau gagal menangkap konteks hukum fikih. Identifikasi masalah yang cepat ini adalah keunggulan utama yang sering tidak ditemukan dalam kelas kolektif. Jadwal Coaching Harian Fiktif di Pesantren Darul Hikmah menetapkan bahwa sesi Sorogan wajib diadakan setiap pagi hari, pukul 07.00 hingga 08.00, sebelum kegiatan pembelajaran umum dimulai.
Efektivitas Metode Sorogan diperkuat oleh adanya interaksi dua arah dan umpan balik instan. Jika santri melakukan kesalahan i’rab (perubahan harakat akhir), Kiai akan langsung mengoreksinya dan menjelaskan kaidah yang dilanggar saat itu juga. Proses koreksi yang segera ini sangat membantu memblokir pembentukan pemahaman yang salah. Selain itu, Sorogan menumbuhkan kemandirian belajar. Karena harus berhadapan langsung dengan Kiai, santri termotivasi untuk mempersiapkan materi dengan sungguh-sungguh, melatih mereka menjadi pembelajar aktif.
Lembaga Pusat Penelitian Pendidikan Islam (PPPI) Fiktif mencatat dalam laporannya pada Jumat, 15 November 2024, bahwa santri yang rutin mengikuti Sorogan memiliki tingkat penguasaan kitab Fathul Qarib (fikih) $35\%$ (fiktif) lebih baik dibandingkan kelompok yang hanya mengandalkan metode ceramah. Sorogan, dengan sifatnya sebagai personal coaching ala pesantren, membuktikan bahwa bimbingan intensif dan individual adalah kunci paling ampuh dalam mengatasi hambatan belajar dan menghasilkan lulusan yang benar-benar kompeten.