Program pendalaman kitab klasik Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib difokuskan pada pengkajian komprehensif bab fiqih ibadah guna memperkuat pemahaman hukum syariat santri sehari-hari. Kegiatan bandongan dan sorogan yang dipimpin langsung oleh asatidz senior mengupas tuntas tata cara bersuci, shalat, zakat, hingga rukun haji secara terperinci. Santri diajak menelaah dalil-dalil dan illat hukum mazhab Syafi i secara sistematis dan logis. Penguasaan dasar keagamaan ini disempurnakan melalui pembelajaran terstruktur kaidah tata bahasa Arab pemula agar santri mampu membaca kitab gundul secara mandiri.
Metode pembelajaran interaktif diterapkan agar para santri tidak hanya menghafal teks matan, tetapi benar-benar memahami esensi filosofis di balik setiap ketetapan hukum fiqih. Diskusi tanya jawab seputar problematika ibadah kontemporer sering kali mewarnai sesi pengajian kitab kuning harian di surau pesantren. Hal ini melatih daya nalar kritis santri dalam memecahkan persoalan ibadah umat di masyarakat.
Kajian kitab fikih mazhab dasar ini merupakan fondasi esensial sebelum santri mempelajari tingkat mazhab yang lebih kompleks dan komprehensif di jenjang berikutnya. Ketelitian dalam memahami nash kitab kuning menjauhkan santri dari kekeliruan dalam mengamalkan rintangan ibadah fardhu maupun sunnah. Tradisi keilmuan klasik ini dijaga ketat keaslian sanad keilmuannya oleh pengasuh pondok.
Ujian periodik berupa tes tertulis dan hafalan teks matan diadakan setiap akhir semester guna mengukur tingkat penyerapan materi fiqih para santri. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman ibadah yang signifikan di kalangan santri junior maupun senior. Penghargaan khusus diberikan kepada santri yang meraih nilai tertinggi dalam ujian munaqasyah kitab.
Pondok pesantren senantiasa mempertahankan tradisi luhur pengajaran kitab turats sebagai identitas utama pencetak kader ulama yang mumpuni dan berakhlakul karimah. Penguasaan ilmu fiqih ibadah yang benar adalah benteng utama amal shalih setiap muslim dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tradisi ngaji bandongan menjadi ruh kehidupan sehari-hari di pesantren.
Pendalaman Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib sukses mencetak santri yang memiliki literasi fiqih ibadah yang kokoh, benar, dan sesuai sunnah rasul. Tradisi kajian kitab kuning terus hidup dan berkembang di tengah arus modernisasi global. Pesantren menjadi oase ilmu syariat yang menyejukkan umat.