Pendidikan di pondok pesantren tidak hanya menekankan pada penguasaan ilmu agama, tetapi juga pada pembentukan karakter yang luhur, termasuk sikap toleransi. Di lingkungan pesantren, para santri berasal dari berbagai latar belakang suku, budaya, dan bahkan mazhab yang berbeda. Situasi ini menjadi laboratorium sosial yang efektif untuk belajar menghargai perbedaan dan mempraktikkan toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Mereka belajar untuk hidup berdampingan, saling memahami, dan menjalin persaudaraan tanpa memandang asal-usul.

Toleransi di pesantren bukanlah sekadar konsep teoritis, melainkan praktik nyata yang diimplementasikan melalui berbagai kegiatan. Misalnya, saat musyawarah atau diskusi, santri dididik untuk mendengarkan pendapat orang lain dengan lapang dada, meskipun pendapat tersebut berbeda dengan keyakinan mereka. Mereka diajarkan bahwa kebenaran bisa datang dari berbagai sudut pandang, dan menghargai perbedaan adalah kunci untuk menemukan solusi yang terbaik. Pengalaman ini membentuk pola pikir yang terbuka dan tidak mudah menghakimi.

Melalui interaksi sehari-hari, santri juga belajar untuk memahami dan menghormati tradisi serta kebiasaan teman-teman mereka yang beragam. Mereka menemukan bahwa di balik setiap perbedaan, terdapat nilai-nilai kemanusiaan yang sama-sama luhur. Kebersamaan yang terjalin di pesantren, seperti makan bersama, belajar bersama, dan beribadah bersama, secara alami menciptakan ikatan persaudaraan yang kuat. Hal ini menunjukkan bahwa menghargai perbedaan bukan hanya tentang menoleransi, tetapi juga tentang merangkul dan menjadikan perbedaan sebagai kekayaan.

Kepala Divisi Humas Polda Jawa Timur, Kombes Pol. Wawan Setiawan, S.H., M.H., menyampaikan pandangannya mengenai peran pesantren dalam menumbuhkan toleransi. Dalam sebuah acara sosialisasi kamtibmas di Pondok Pesantren Nurul Iman, beliau mengatakan, “Pesantren memiliki peran yang sangat strategis dalam merawat kerukunan umat beragama. Para santri di sini sudah terlatih untuk hidup dalam keberagaman. Saya berharap, setelah lulus, mereka bisa menjadi duta-duta perdamaian yang menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.” Pernyataan ini disampaikan pada hari Jumat, 12 Desember 2025, di aula serbaguna Pondok Pesantren Nurul Iman yang berlokasi di Jalan Raya Damai Sejati, Kabupaten Amanah.

Dengan demikian, pesantren modern memainkan peran krusial dalam menumbuhkan jiwa toleransi dan persatuan di tengah masyarakat yang majemuk. Melalui pendidikan yang holistik, santri tidak hanya dibekali dengan ilmu agama, tetapi juga dengan kesadaran akan pentingnya menghargai perbedaan sebagai modal utama untuk menciptakan kehidupan yang harmonis dan damai. Mereka adalah harapan bangsa untuk merajut persatuan di tengah keberagaman.