Di tengah rutinitas belajar kitab kuning dan ibadah, pondok pesantren modern semakin menyadari pentingnya Eksplorasi Minat dan Bakat non-akademik bagi santri. Program ekstrakurikuler yang unik dan terstruktur kini menjadi jembatan bagi santri untuk menemukan potensi diri mereka di luar ilmu agama, mulai dari robotika hingga jurnalistik. Adanya Eksplorasi Minat dan Bakat ini membuktikan bahwa pesantren adalah lembaga holistik yang peduli pada perkembangan intelektual dan kreatif santri secara menyeluruh. Dengan memberikan ruang untuk Eksplorasi Minat dan Bakat, pesantren mempersiapkan santri untuk menjadi individu multitalenta yang siap bersaing di masa depan.
Program ekstrakurikuler di pesantren sering kali dirancang untuk mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan keterampilan modern. Sebagai contoh, di Pondok Pesantren Technopark Al-Mubarak, Jawa Tengah, terdapat klub Robotika Islami yang didirikan pada Tahun 2023. Klub ini mengajarkan santri untuk merancang dan memprogram robot sederhana yang bertugas sebagai penanda waktu salat otomatis atau pembersih area asrama. Sesi latihan klub ini diadakan setiap Senin dan Kamis sore, dengan tujuan agar santri dapat mengaplikasikan logika sains dan teknologi sambil tetap menjaga disiplin waktu ibadah.
Selain teknologi, soft skill juga menjadi fokus utama. Banyak pesantren memiliki klub Jurnalistik dan Debat. Klub jurnalistik, misalnya, bertugas menerbitkan buletin mingguan pesantren yang bernama “Suara Santri“, yang dicetak setiap Jumat pagi dan didistribusikan ke seluruh asrama. Kegiatan ini melatih kemampuan menulis, penyuntingan, dan pertanggungjawaban informasi, yang merupakan keterampilan kunci di era digital. Santri yang tergabung dalam tim redaksi bertanggung jawab penuh untuk memverifikasi setiap berita yang mereka dapatkan, menerapkan prinsip tabayyun (verifikasi) dalam konteks jurnalistik.
Aspek keselamatan dan pengawasan dalam pelaksanaan program Eksplorasi Minat dan Bakat ini tetap diutamakan. Untuk kegiatan fisik seperti panahan (olahraga sunnah yang populer di pesantren), pengawasan ketat dari pelatih bersertifikasi wajib dilakukan. Instruktur Panahan Pondok, Bapak Hadi Santoso, memastikan bahwa semua santri menggunakan peralatan pelindung mata dan jarak menembak dijaga minimal 20 meter dari area publik. Pada 10 September 2025, pihak pondok juga berkoordinasi dengan Kepolisian Sektor (Polsek) Bidang Keamanan untuk mendapatkan izin penggunaan lapangan tembak sementara, memastikan bahwa semua kegiatan yang berpotensi memiliki risiko fisik dijalankan sesuai dengan standar keamanan yang berlaku dan diawasi oleh petugas yang kompeten.