Di tengah masifnya sistem pendidikan klasikal modern, pesantren tradisional masih mempertahankan dan menghargai metode kuno yang disebut Sorogan. Metode ini merupakan bentuk pengajaran individualistik di mana santri secara bergantian menghadap (sowan) kepada kyai atau ustadz untuk menyetorkan bacaan kitab (sorogan) atau hafalan mereka. Keunggulan utama Sorogan terletak pada Interaksi Personal yang intensif dan eksklusif antara guru dan murid. Interaksi Personal ini memungkinkan transfer ilmu dan, yang lebih penting, transfer spiritual (barakah) yang lebih mendalam, karena kyai dapat memantau perkembangan intelektual, emosional, dan spiritual setiap santri. Proses Sorogan menjamin Interaksi Personal yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan unik setiap santri.
Keistimewaan Sorogan yang individualistik memungkinkan kyai mendiagnosis secara akurat kekurangan dan kelebihan santri secara real-time. Berbeda dengan sistem bandongan (klasikal) di mana banyak santri menyimak kyai, dalam Sorogan, fokus 100% tertuju pada satu santri. Jika santri keliru dalam membaca, kyai dapat segera mengoreksi pelafalan, pemahaman tata bahasa Arab (nahwu/shorof), dan kedalaman makna filosofis. Ini menciptakan proses belajar yang sangat adaptif. Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri, misalnya, masih mewajibkan metode Sorogan untuk kitab-kitab fikih dan nahwu tingkat menengah yang diadakan setiap hari Selasa sore, untuk memastikan tidak ada pemahaman yang dangkal.
Lebih dari sekadar akademik, Interaksi Personal dalam Sorogan adalah katalis pembentukan karakter. Saat santri duduk dekat dengan kyai, mereka tidak hanya menyetor ilmu, tetapi juga mengobservasi adab (etika) dan tawadhu’ (kerendahan hati) kyai. Momen ini menjadi kesempatan bagi kyai untuk memberikan nasihat pribadi (mau’izhah hasanah) yang sangat spesifik, disesuaikan dengan masalah atau potensi yang sedang dihadapi santri tersebut. Transfer spiritual ini, sering disebut barakah, dipercaya dapat menumbuhkan self-control dan keikhlasan (ikhlas) yang tidak didapatkan dari pelajaran klasikal.
Efektivitas metode ini diakui oleh pihak luar. Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag), melalui penelitian kurikulum pesantren pada Maret 2026, mencatat bahwa alumni yang intensif menjalani Sorogan menunjukkan tingkat penguasaan kitab kuning yang jauh lebih tinggi dan memiliki integritas moral yang lebih kuat saat memasuki dunia profesional, karena mereka telah terbiasa dengan pengawasan dan bimbingan moral yang ketat.
Secara keseluruhan, metode Sorogan adalah warisan pedagogis pesantren yang unggul karena menjamin Interaksi Personal antara kyai dan santri. Model individualistik ini tidak hanya mengoptimalkan penguasaan ilmu, tetapi yang paling penting, berhasil menanamkan akhlak dan spiritualitas yang kokoh melalui bimbingan hati ke hati yang berkelanjutan.