Listrik telah menjadi kebutuhan dasar dalam menunjang aktivitas belajar di pesantren, mulai dari penerangan hingga pengisian daya perangkat elektronik. Namun, penggunaan energi ini membawa risiko besar jika tidak dikelola dengan benar, terutama di area asrama yang padat penduduk. Kampanye mengenai instalasi listrik aman menjadi sangat mendesak untuk mencegah terjadinya arus pendek (korsleting) yang sering menjadi pemicu utama kebakaran. Memberikan edukasi yang tepat kepada para santri mengenai cara menggunakan listrik secara bijak adalah langkah preventif yang paling efektif untuk menjaga keamanan lingkungan pondok secara keseluruhan.
Pendidikan awal dimulai dengan memberikan pemahaman tentang beban daya. Banyak santri cenderung menggunakan kabel sambungan (steker) yang ditumpuk-tumpuk secara berlebihan dalam satu titik kontak. Hal ini sangat berbahaya karena dapat memicu panas berlebih pada kabel dan melelehkan isolatornya. Dalam sesi edukasi, pengurus asrama ditekankan untuk melakukan pemeriksaan rutin terhadap kualitas kabel dan stop kontak yang digunakan. Penggunaan komponen listrik yang memenuhi standar nasional (SNI) adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar, karena perangkat yang murah dan tidak standar sering kali menjadi sumber bencana.
Selain masalah beban, perilaku harian dalam penggunaan listrik juga harus diatur dengan ketat. Santri sering kali meninggalkan pengisi daya (charger) ponsel atau laptop terpasang pada stop kontak meskipun perangkatnya sudah tidak digunakan. Kebiasaan ini tidak hanya memboroskan energi, tetapi juga meningkatkan risiko panas pada adaptor yang bisa memicu percikan api. Budaya “cabut saat tidak dipakai” harus ditanamkan sebagai bagian dari disiplin pesantren. Selain itu, santri dilarang keras melakukan modifikasi atau menyambung kabel sendiri di dalam kamar santri tanpa pengawasan teknisi ahli, karena instalasi yang asal-asalan sangat rawan terhadap gangguan teknis.
Aspek kebersihan di sekitar instalasi listrik juga tidak kalah penting. Debu yang menumpuk di sela-sela steker atau lingkungan kamar yang lembap dapat memicu terjadinya loncatan arus listrik. Santri diajarkan untuk menata kabel dengan rapi dan tidak meletakkannya di bawah karpet atau kasur yang mudah terbakar. Penataan instalasi yang rapi memudahkan proses pengecekan jika terjadi kerusakan. Edukasi ini juga mencakup langkah darurat jika terjadi percikan api, yaitu segera mematikan saklar utama (MCB) dan tidak menyiram api listrik dengan air karena risiko tersengat arus listrik yang sangat tinggi.