Isu pelestarian lingkungan kini mulai menjadi perhatian serius di kalangan dunia pendidikan Islam, melahirkan sebuah gerakan kesadaran yang disebut dengan Green Deen. Konsep ini berangkat dari pemahaman bahwa menjaga alam adalah bagian integral dari keimanan dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Di Pondok Pesantren Darussalamnuh, nilai-nilai ekologis ini diimplementasikan secara konkret melalui gerakan bebas plastik yang melibatkan seluruh elemen, mulai dari kiai, ustadz, hingga para santri. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan belajar yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Penerapan prinsip Green Deen di pesantren ini bukan sekadar mengikuti tren global, melainkan sebuah ketaatan terhadap perintah agama untuk tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Di lingkungan ponpes, penggunaan plastik sekali pakai seperti kantong belanja, botol air mineral, dan sedotan mulai ditiadakan dan diganti dengan alternatif yang lebih ramah lingkungan. Setiap santri diwajibkan memiliki botol minum (tumbler) dan wadah makan sendiri yang dapat dicuci ulang. Transformasi gaya hidup melalui gerakan bebas plastik ini mendidik santri untuk lebih sadar akan dampak dari setiap konsumsi yang mereka lakukan terhadap ekosistem sekitar.

Manajemen limbah di Darussalamnuh juga menjadi salah satu pilar utama dalam kurikulum ekologi mereka. Sampah organik dari dapur pesantren diolah menjadi kompos untuk menyuburkan kebun sayur mandiri, sementara sampah non-organik dikelola melalui bank sampah pesantren. Gerakan Green Deen mengajarkan santri bahwa kebersihan bukan hanya sebatas menyapu lantai, tetapi juga tentang bagaimana mengelola sisa konsumsi agar tidak mencemari tanah dan air. Dengan lingkungan yang asri dan minim sampah, suasana belajar menjadi jauh lebih nyaman dan mendukung kesehatan pernapasan seluruh penghuni pondok.

Edukasi mengenai lingkungan di Darussalamnuh sering kali diselipkan dalam kajian kitab-kitab klasik yang membahas tentang thaharah (bersuci) dan pengelolaan sumber daya alam. Para guru menekankan bahwa air yang suci dan mensucikan hanya bisa didapat dari lingkungan yang terjaga. Melalui gerakan bebas plastik, pesantren ingin mematahkan stigma bahwa lingkungan kumuh identik dengan institusi pendidikan tradisional. Sebaliknya, mereka ingin menunjukkan bahwa pesantren bisa menjadi pelopor gerakan hijau di Indonesia. Kesadaran Green Deen ini diharapkan terbawa oleh para santri saat mereka lulus dan menjadi penggerak lingkungan di daerah asal masing-masing.

Kategori: Berita