Kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup kini mulai merambah ke berbagai sektor, termasuk institusi pendidikan Islam tradisional. Di tengah ancaman pemanasan global dan krisis iklim yang semakin nyata, Pondok Pesantren Darussalamnuh mengambil langkah konkret untuk mengedukasi para santrinya agar lebih peduli terhadap alam. Melalui sebuah gerakan yang disebut aksi tanam pohon buah, seluruh elemen pondok diajak untuk berkontribusi langsung dalam menghijaukan lingkungan sekitar. Program ini bukan sekadar aktivitas fisik semata, melainkan sebuah manifestasi dari nilai-nilai spiritual tentang tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi yang bertugas menjaga keseimbangan ekosistem.
Konsep back to nature yang diusung oleh Ponpes Darussalamnuh bertujuan untuk mendekatkan kembali para santri dengan sumber kehidupan mereka. Di zaman yang serba digital ini, banyak generasi muda yang mulai kehilangan keterikatan dengan tanah dan alam. Dengan menanam pohon buah, santri diajarkan untuk memahami proses pertumbuhan, pentingnya kesabaran, serta ketergantungan manusia pada alam ciptaan Allah SWT. Pohon-pohon yang ditanam di area pesantren diharapkan tidak hanya memberikan keteduhan dan oksigen bersih, tetapi juga memberikan manfaat pangan yang sehat dan organik bagi warga pondok di masa depan melalui hasil panennya.
Gerakan Go Green di lingkungan pesantren ini dilakukan dengan memanfaatkan lahan-lahan kosong yang selama ini kurang produktif. Para santri dipandu oleh para ahli agronomi untuk memilih jenis bibit pohon buah yang cocok dengan kondisi tanah setempat, seperti durian, mangga, hingga alpukat. Dalam proses penanaman, santri tidak hanya menggali lubang dan menaruh bibit, tetapi juga belajar mengenai teknik pemupukan alami yang ramah lingkungan. Edukasi mengenai penggunaan pupuk kompos hasil limbah dapur pondok menjadi bagian integral dari kurikulum kemandirian pangan yang sedang dibangun oleh institusi ini agar santri memiliki keterampilan agribisnis yang mumpuni.
Dampak dari Aksi Tanam Pohon Buah ini dirasakan sangat luas, tidak hanya bagi santri tetapi juga bagi masyarakat sekitar. Pesantren menjadi paru-paru hijau di wilayahnya, membantu menjaga ketersediaan air tanah, dan mengurangi polusi udara. Secara psikologis, lingkungan yang hijau dan asri juga terbukti mampu meningkatkan fokus belajar serta mengurangi tingkat stres para santri. Suasana belajar di bawah naungan pohon yang rindang memberikan ketenangan batin yang berbeda dibandingkan dengan ruangan beton yang tertutup. Inilah bentuk nyata dari integrasi antara ibadah mahdhah dan ibadah sosial-ekologis yang ditekankan oleh pengasuh pondok.