Bahasa Arab bukan hanya bahasa agama Islam; ia adalah kunci untuk membuka Khazanah Ilmu Islam klasik. Tanpa pemahaman yang mendalam tentang Bahasa Arab Fusha (standar/klasik), akses langsung kepada kitab-kitab turats (warisan) dalam fikih, tafsir, dan hadis akan terputus. Lembaga seperti Darussalam Nuh berkomitmen untuk melestarikan Bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi ilmiah utama bagi santri, memastikan bahwa mereka mampu berinteraksi secara langsung dengan sumber primer keilmuan Islam.
Pelestarian Bahasa Arab Fusha di pesantren tidak berarti penolakan terhadap bahasa lokal. Sebaliknya, ia adalah penegasan terhadap disiplin intelektual. Santri harus menguasai karena seluruh ilmu metodologi (Nahwu, Sharf, Balaghah) yang mereka pelajari berpusat pada bahasa ini. Metode pelestarian yang diterapkan di Darussalam Nuh seringkali meliputi:
- Lingkungan Berbahasa: Mewajibkan santri untuk berkomunikasi sehari-hari, atau setidaknya di area dan waktu tertentu, menggunakan Bahasa Arab Fusha atau setidaknya Ammiyah (dialek) yang baku. Hal ini mengubah bahasa dari sekadar subjek akademik menjadi alat komunikasi hidup.
- Kajian Intensif Nahwu dan Sharf: Menggunakan kitab-kitab klasik tata bahasa Arab (seperti Alfiyyah Ibnu Malik atau Jurumiyah) secara intensif, memastikan santri memiliki fondasi gramatikal yang kokoh untuk memahami struktur kalimat yang kompleks dalam kitab-kitab fikih.
- Musyawarah dan Debat dalam Bahasa Arab: Mendorong santri untuk berdiskusi ilmiah (musyawarah) atau bahkan berdebat menggunakan Bahasa Arab Fusha. Praktik ini melatih kelancaran (maharah al-kalam) dan kemampuan berpikir kritis dalam bahasa sumber.
Tantangan terbesar dalam pelestarian Bahasa Arab Fusha adalah persaingan dengan bahasa gaul modern dan minimnya paparan terhadap penutur asli yang fasih. Namun, Darussalam Nuh menunjukkan bahwa dengan sistem yang disiplin dan lingkungan yang kondusif, penguasaan Fusha dapat dicapai. Santri yang menguasai Fusha akan memiliki keunggulan ilmiah yang signifikan. Mereka tidak perlu bergantung pada terjemahan yang mungkin mengandung bias atau kesalahan, tetapi dapat mengakses kebijaksanaan ulama secara langsung.
Oleh karena itu, pelestarian Bahasa Arab Fusha di Darussalam Nuh adalah upaya strategis untuk mencetak generasi ulama masa depan yang memiliki otoritas keilmuan yang tak terbantahkan. Kemampuan berkomunikasi dan meneliti dalam Fusha memastikan bahwa warisan intelektual Islam akan terus dipahami secara akurat dan diwariskan secara otentik.