Fokus utama dari program ini adalah menciptakan pasukan kesehatan yang terdiri dari kader desa yang memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat setempat. Para kader ini diberikan pembekalan teknis mengenai cara mengenali ciri-ciri fisik lensa mata yang mulai keruh, seperti adanya bintik putih di tengah pupil atau keluhan pandangan berasap yang sering dialami warga. Dengan pelatihan yang intensif, mereka mampu melakukan pemeriksaan tajam penglihatan sederhana menggunakan bagan Snellen di balai desa. Kader juga diajarkan cara berkomunikasi yang efektif agar masyarakat tidak merasa terintimidasi saat diberitahu mengenai kondisi mata mereka, sehingga proses skrining berjalan secara alami dan penuh kekeluargaan.
Tujuan inti dari gerakan ini adalah untuk mendorong upaya deteksi dini agar angka kebutaan permanen dapat ditekan secara signifikan. Sering kali, katarak dibiarkan hingga mencapai stadium matur (matang) yang membuat proses operasi menjadi lebih kompleks. Melalui pemantauan rutin yang dilakukan oleh kader di rumah-rumah warga, kasus-kasus kekeruhan lensa dapat ditemukan lebih awal saat penglihatan masih dalam tahap terganggu sebagian. Langkah proaktif ini mempermudah sistem rujukan ke rumah sakit mata, sehingga pasien mendapatkan penanganan tepat waktu. Kemampuan kader dalam memetakan penderita katarak di wilayahnya menjadi data berharga bagi pemerintah daerah dalam menentukan prioritas bantuan kesehatan.
Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan katarak adalah faktor psikologis pasien, oleh karena itu kampanye ini mengusung semangat tanpa takut dalam menghadapi tindakan medis. Banyak lansia yang termakan mitos bahwa operasi mata adalah hal yang menyakitkan atau berisiko tinggi gagal. Di sinilah peran krusial kader desa yang dilatih oleh Darussalam Nuh; mereka bertugas memberikan testimoni positif dan penjelasan bahwa teknologi operasi modern saat ini sangat cepat dan minim rasa sakit. Dengan pendekatan dari hati ke hati, ketakutan warga perlahan sirna dan berganti dengan harapan untuk bisa melihat kembali wajah anak cucu mereka dengan jelas, yang merupakan motivasi terkuat bagi para lansia untuk bersedia menjalani pengobatan.
Secara sosiologis, program yang dijalankan oleh Darussalam Nuh ini memperkuat struktur pertahanan kesehatan di tingkat desa. Kader yang telah terlatih menjadi aset berharga yang dapat terus memberikan edukasi mengenai pencegahan katarak, seperti penggunaan topi atau kacamata pelindung saat bekerja di bawah terik matahari bagi para petani. Sinergi antara lembaga sosial, tenaga medis profesional, dan kader masyarakat menciptakan sistem deteksi yang efektif dan murah. Keberhasilan program ini tidak hanya dilihat dari jumlah orang yang dioperasi, tetapi juga dari meningkatnya literasi kesehatan mata di kalangan warga yang selama ini mungkin merasa terpinggirkan dari akses informasi medis yang akurat.