Pendidikan di pesantren tidak hanya mengajarkan teori agama, tetapi juga mengajarkan bagaimana mengamalkannya dalam kehidupan nyata. Salah satu praktik yang paling menonjol adalah program santunan dan kebaikan hati yang mengajarkan santri untuk berbagi tanpa pamrih. Nilai ini adalah fondasi dari ajaran Islam tentang kepedulian sosial, yang menanamkan empati dan rasa tanggung jawab terhadap sesama. Program ini memastikan bahwa santri tidak hanya berilmu, tetapi juga memiliki hati yang mulia.

Program santunan di pesantren biasanya melibatkan pengumpulan dana atau barang dari santri dan pihak sekolah, yang kemudian disalurkan kepada mereka yang membutuhkan, seperti anak yatim, fakir miskin, atau korban bencana alam. Dengan berpartisipasi dalam kegiatan ini, santri belajar bahwa setiap rezeki yang mereka miliki memiliki hak orang lain di dalamnya. Pengalaman ini adalah cara yang efektif untuk berbagi tanpa pamrih dan menumbuhkan rasa syukur. Sebuah laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tanggal 10 April 2025 menunjukkan bahwa santri yang rutin berpartisipasi dalam program santunan memiliki tingkat empati 30% lebih tinggi dibandingkan siswa di sekolah umum. Laporan ini, yang dirilis di Jakarta, menegaskan bahwa praktik adalah kunci dari pembinaan.

Selain program santunan formal, pesantren juga membiasakan santri untuk berbagi tanpa pamrih dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, jika seorang santri memiliki makanan lebih, ia akan didorong untuk berbagi dengan teman-temannya. Jika seorang santri kesulitan dalam belajar, teman-temannya akan membantunya. Lingkungan yang suportif ini menciptakan budaya di mana saling membantu dan berbagi adalah hal yang lumrah. Pada hari Kamis, 25 Mei 2025, dalam sebuah wawancara, seorang ulama terkemuka, Bapak Kyai Haji Budi Santoso, menyatakan bahwa lingkungan pesantren yang kondusif adalah faktor utama yang membantu menempa karakter santri. Beliau menambahkan bahwa pendidikan yang baik akan melahirkan generasi yang peduli.

Berbagi tanpa pamrih juga diajarkan melalui kegiatan sosial di luar pesantren. Banyak pesantren yang mengadakan program kunjungan ke panti asuhan, panti jompo, atau daerah terpencil untuk memberikan bantuan. Pengalaman ini memberikan santri perspektif baru tentang kehidupan dan mengajarkan mereka untuk lebih menghargai apa yang mereka miliki. Mereka belajar bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari memiliki banyak, tetapi dari memberi.

Pada akhirnya, program santunan dan kebaikan hati di pesantren adalah cara yang sangat efektif untuk mengajarkan santri tentang arti berbagi tanpa pamrih. Ini adalah investasi yang tidak hanya menguntungkan individu, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan ekonomi bangsa secara keseluruhan.